"Setiap tempat kerja adalah juga sebuah tempat belajar" - Goenawan Mohammad.
Kesibukan tiap hari membuat kesempatan untuk meng-update blog semakin sulit untuk terealisasi. Setidaknya hampir tujuh jam tiap harinya saya berjibaku dengan tugas harian dalam kantor. Maka tidak heran jika pada akhirnya, ruangan itu oleh Kepala Sub Bidang saya sering disebut dengan "Rumah Kedua".
Meski begitu, lika-liku menjadi anggota kantor dengan usia paling bontot ternyata cukup mengasyikkan juga. Tiada hari yang saya lalui tanpa ada curahan ilmu dan wejangan dari segenap warga kantor. Dari mulai tip dan trik mengirit material pelestarian bahan pustaka sampai ilmu menjalani kehidupan sehari-hari seakan tidak pernah berhenti mengucur.
Orang-orang yang berkecimpung di dalamnya pun tidak kalah meriahnya. Sebut saja Pak Ranto yang biasa disebut Komandan oleh rekan-rekannya, lantaran tertawanya yang konon bisa menggetarkan kaca kantor. Ada lagi Pak Parjiono yang meski berusia senja tetap saja giat mengerlingkan mata pada gadis-gadis SMA yang sering PKL di perpustakaan.
Lain lagi dengan Pak Senen, yang perfeksionis dan memiliki banyak kegiatan, sepertinya tidak ada kata "nganggur" dalam kamusnya. Bapak kita yang satu ini, selain berkutat dengan kegiatan alih mengalih media, dia juga sibuk menjalankan kerja sampingan seperti menerima order sablonan hingga pengisian pulsa. Nah, jika menilik Pojok ruangan, maka di sana akan bertemu dengan tempat mangkal pak Ratidjo yang biasa ditemani kepulan asap rokoknya. Di sebelahnya, Pak Nur bakal mengguncang pundak anda dengan banyolan-banyolannya yang seakan tak pernah kalah renyah dengan wafer nomor satu.
Meski disesaki lelaki yang penuh warna, di ruangan itu masih ada sentuhan wanita yang tertampuk pada pundak Bu Yuli. Sosok satu inilah yang sering mengimbangi energi dalam ruangan itu. Biasanya, objek pertama yang bakal dia ambil saat memasuki ruangan adalah Kemoceng. Dengan sekali kebat, dua tiga debu pun beterbangan. Di sisi lain ruangan, berkecimpung para pejabat "elit" yang dihuni oleh Pak Widodo yang Ahli Kimia dan Bu Prapti, sang Kepala Sub Bidang.
Lantas apa Enaknya kerja jadi PNS??
Saya merasa cukup beruntung berada di dalam kantor bidang yang bisa dibilang tidak pernah sepi ini. Ada saja ingar bingar yang mengisi ruangan mungil di jalan Tentara Rakyat Mataram itu, entah berjibaku dengan bahan pustaka Kuno atau sekadar obrolan ringan tentang segala hal.
Pernah suatu ketika perbincangan menghangat saat menyenggol urusan tentang kehidupan setelah pernikahan, suatu subjek yang cukup menarik perhatian saya akhir-akhir ini. Bukan lantaran saya sedang berharap dapat segera meluruhkan status lajang, namun karena pembicaraan warga kantor yang sudah makan asam garam kehidupan saya anggap bisa dijadikan acuan kelak jika akan membangun rumah tangga.
"Pernikahan itu bagian 'enaknya' hanya tiga bulan, Mas," kata Bu Prapti, Kepala Sub Bidang tempat saya berkecimpung, "Setelah itu, permasalahan pun segera bermunculan. Entah itu istri yang mulai bunting atau sekadar cek-cok kecil mengenai pembagian tugas rumah tangga." Demi mendengar wejangan itu, saya pun cuma bisa senyum-senyum kecut.
"Kalau mau menikah, sebagai PNS musti pintar-pintar me-menej keuangan mas," ujar Pak Ranto, yang memang terkenal sering menerapkan sistem Tabungan Berjangkanya, "Kebutuhan pendidikan yang tiap hari kian meningkat, jika tidak diimbangi dengan manajemen keuangan yang mumpuni, bisa berabe," ujarnya masih dengan suara agak menggelegar.
Di sela perbincangan itu, tiba-tiba datang pak Tris, seorang pustakawan cum santriwan pondok pesantren Krapyak yang seringkali dijadikan rujukan jika menyangkut masalah agama dan hal-hal yang sedikit mistik. Mendengar pembicaraan pernikahan berlangsung, tanpa banyak kendala Pak Tris pun segera dijadikan salah seorang "nara sumber". Tema utamanya apa lagi kalau bukan, "Cara meningkatkan vitalitas Seks". Wah.. Wah.. Wah..
Menghabiskan hari dengan sosok-sosok seperti ini membuat waktu terasa cepat berlalu. Meski pekerjaan cukup berat dan kegiatan menumpuk, jika sudah memasuki masa rehat makan siang dan anggota kantor mengeluarkan "jurus" masing-masing, sudah bisa dipastikan semua ketegangan tersebut bakal hilang dengan seketika..
Kesibukan tiap hari membuat kesempatan untuk meng-update blog semakin sulit untuk terealisasi. Setidaknya hampir tujuh jam tiap harinya saya berjibaku dengan tugas harian dalam kantor. Maka tidak heran jika pada akhirnya, ruangan itu oleh Kepala Sub Bidang saya sering disebut dengan "Rumah Kedua".
Meski begitu, lika-liku menjadi anggota kantor dengan usia paling bontot ternyata cukup mengasyikkan juga. Tiada hari yang saya lalui tanpa ada curahan ilmu dan wejangan dari segenap warga kantor. Dari mulai tip dan trik mengirit material pelestarian bahan pustaka sampai ilmu menjalani kehidupan sehari-hari seakan tidak pernah berhenti mengucur. Orang-orang yang berkecimpung di dalamnya pun tidak kalah meriahnya. Sebut saja Pak Ranto yang biasa disebut Komandan oleh rekan-rekannya, lantaran tertawanya yang konon bisa menggetarkan kaca kantor. Ada lagi Pak Parjiono yang meski berusia senja tetap saja giat mengerlingkan mata pada gadis-gadis SMA yang sering PKL di perpustakaan.
Lain lagi dengan Pak Senen, yang perfeksionis dan memiliki banyak kegiatan, sepertinya tidak ada kata "nganggur" dalam kamusnya. Bapak kita yang satu ini, selain berkutat dengan kegiatan alih mengalih media, dia juga sibuk menjalankan kerja sampingan seperti menerima order sablonan hingga pengisian pulsa. Nah, jika menilik Pojok ruangan, maka di sana akan bertemu dengan tempat mangkal pak Ratidjo yang biasa ditemani kepulan asap rokoknya. Di sebelahnya, Pak Nur bakal mengguncang pundak anda dengan banyolan-banyolannya yang seakan tak pernah kalah renyah dengan wafer nomor satu.
Meski disesaki lelaki yang penuh warna, di ruangan itu masih ada sentuhan wanita yang tertampuk pada pundak Bu Yuli. Sosok satu inilah yang sering mengimbangi energi dalam ruangan itu. Biasanya, objek pertama yang bakal dia ambil saat memasuki ruangan adalah Kemoceng. Dengan sekali kebat, dua tiga debu pun beterbangan. Di sisi lain ruangan, berkecimpung para pejabat "elit" yang dihuni oleh Pak Widodo yang Ahli Kimia dan Bu Prapti, sang Kepala Sub Bidang.
Lantas apa Enaknya kerja jadi PNS??
Saya merasa cukup beruntung berada di dalam kantor bidang yang bisa dibilang tidak pernah sepi ini. Ada saja ingar bingar yang mengisi ruangan mungil di jalan Tentara Rakyat Mataram itu, entah berjibaku dengan bahan pustaka Kuno atau sekadar obrolan ringan tentang segala hal.
Pernah suatu ketika perbincangan menghangat saat menyenggol urusan tentang kehidupan setelah pernikahan, suatu subjek yang cukup menarik perhatian saya akhir-akhir ini. Bukan lantaran saya sedang berharap dapat segera meluruhkan status lajang, namun karena pembicaraan warga kantor yang sudah makan asam garam kehidupan saya anggap bisa dijadikan acuan kelak jika akan membangun rumah tangga.
"Pernikahan itu bagian 'enaknya' hanya tiga bulan, Mas," kata Bu Prapti, Kepala Sub Bidang tempat saya berkecimpung, "Setelah itu, permasalahan pun segera bermunculan. Entah itu istri yang mulai bunting atau sekadar cek-cok kecil mengenai pembagian tugas rumah tangga." Demi mendengar wejangan itu, saya pun cuma bisa senyum-senyum kecut.
"Kalau mau menikah, sebagai PNS musti pintar-pintar me-menej keuangan mas," ujar Pak Ranto, yang memang terkenal sering menerapkan sistem Tabungan Berjangkanya, "Kebutuhan pendidikan yang tiap hari kian meningkat, jika tidak diimbangi dengan manajemen keuangan yang mumpuni, bisa berabe," ujarnya masih dengan suara agak menggelegar.
Di sela perbincangan itu, tiba-tiba datang pak Tris, seorang pustakawan cum santriwan pondok pesantren Krapyak yang seringkali dijadikan rujukan jika menyangkut masalah agama dan hal-hal yang sedikit mistik. Mendengar pembicaraan pernikahan berlangsung, tanpa banyak kendala Pak Tris pun segera dijadikan salah seorang "nara sumber". Tema utamanya apa lagi kalau bukan, "Cara meningkatkan vitalitas Seks". Wah.. Wah.. Wah..
Menghabiskan hari dengan sosok-sosok seperti ini membuat waktu terasa cepat berlalu. Meski pekerjaan cukup berat dan kegiatan menumpuk, jika sudah memasuki masa rehat makan siang dan anggota kantor mengeluarkan "jurus" masing-masing, sudah bisa dipastikan semua ketegangan tersebut bakal hilang dengan seketika..




